Semua kembali seperti sedia kala
Menjalani hidup tanpa ada apa-apa
Aku tak mengenalmu
Pun kau tak mengenalku
Seperti 2 tahun yang lalu
Tegur sapa pun tak pernah ada
Kehidupan terjadi seperti biasa
Layaknya kapas tertepa angin
Melayang bebas tanpa tahu arah
Bermuara pada tempat yang mengajaknya diam
Kembali terbang ketika angin menerjang
Aku masih dalam egoku
Membiarkanmu hidup dalam duniamu
Pun aku tetap diam
Semua impian masa depan tetap dalam angan
Aku, tetaplah aku
Kepedulianku tidak akan pernah luntur
Meskipun dirimu pergi menghilang
Di gelap malam
Aku, tetaplah aku
Biarkan aku tetap menjadi bayangmu
Karena masa sekarang dan yang akan datang
Tak akan pernah terjadi tanpa masa lalu
Selasa, 25 Oktober 2016
Minggu, 23 Oktober 2016
KEBACUT
KEBACUT
Kabeh wis kebacut
Nalika sega wis kebacut dadi bubur
Ati uga melu ajur
Kebacut, kabeh wis kebacut
Aku durung bisa ngeja aksaraMu
Nalika pratandha nyata ing sangarepku
Kebacut
Mung bisa cancut
Senadyan ati wis kapilut
Mendhung uga tansaya nglayut
PituduhMu muga bisa dakranggeh
Aja nganti ati kagoreh
Marang tatu kang saya jero
Tumrap kahananku marang kono
Gusti kang maha Murwat
Mugi paring hidayat
Mring kula kang ora kuwat
Nandang pilara kahanan ing jagad
Sabtu, 22 Oktober 2016
KELUARGA
Aku tak meminta Tuhan untuk mempertemukan mereka
Pun aku tak memaksa Tuhan agar aku bisa menjadi bagian hidup mereka
Aku juga tak menginginkan ada bersama 3th dengan mereka
Dan masih banyak ketidakinginan-permintaan-ataupun paksaan lain agar foto ini terjadi
Yang aku tahu ini takdir Tuhan
Bagaimana kita dipertemukan secara sengaja
Dalam naungan kampus biruAku yang dipilih Tuhan menemani mereka hampir 3tahun
Aku yang akhirnya diutus Tuhan untuk mendengarkan cerita mereka, menjadi bagian dari apa yang mereka perjuangkan, membawa mereka sampai pada titik dimana mereka sampai pada passion mereka dengan piala-piala mereka
Dan ketika Tuhan meminta kembali mereka untuk melakoni, melanjutkan jalan hidup mereka, ber-hak-kah aku untuk meminta mereka tetap bersama aku?
TIDAK
Mereka bukan apa yang aku minta
Mereka bukan apa yang aku paksakan
Mereka bukan apa yang aku inginkan
Tuhan mempertemukanku dengan mereka tak lain adalah agar aku belajar dari mereka
Belajar tentang sebuah ketegaran ketika ditinggal oleh Ibu
Belajar tentang untuk saling mendukung
Belajar tentang DIAM dalam perhatian
Belajar tentang keputusasaan ketika apa yang kita inginkan ternyata belumlah kita dapatkan
Terimakasih Tuhan
Engkau begitu baik mempertemukan aku dengan mereka
Hingga pada saat mereka harus melanjutkan hidup mereka
Petuah-pun sudah tidak bisa lagi aku ucapkan
Hanya dalam sujud, begitu indah kenangan itu
untuk harus selalu aku iringi dengan do'aMu
Semoga kelak mereka tetap dalam jalanMu
Engkau mudahkan langkah mereka
Engkau bimbing mereka dalam perjalanan hidup mereka
Terimakasih Tuhan
Keluarga yang singkat ini semoga akan menjadi cerita
Untukku yang mulai melanjutkan hidup tanpa mereka
Untuk mereka yang memulai hidup panjangnya
Rabu, 12 Oktober 2016
Capung atau Perasaan?
Kau tahu apa yang harus kita lakukan dari seekor Capung agar hinggap di tangan kita? Ya, kita harus sangat berhati-hati ketika kita ingin Capung itu hinggap di tangan kita. Tidak semudah memegang belalang atau lebah tapi waktu yang panjang harus kita korbankan agar Capung itu mau hinggap di tangan kita. Sama, sama dengan perasaan seseorang. Ketika kita ingin seseorang itu hadir menemani kita, maka kita akan butuh waktu yang sangat lama agar seseorang itu nyaman dengan kita. Lantas, apa yang terjadi ketika ada sedikit gerakan dari tangan kita? Capung? Tentu akan kabur. Pun dengan perasaan seseorang, akan hilang ketika kita sudah melakukan hal yang tidak diinginkan. Entah itu sebuah kesengajaan atau tidak. Tapi percayalah, selama apapun kita berusaha, akan ada jawaban atas usaha kita. Percaya itu. Jadi yang kita bahas ini Capung atau Perasaan? Entahlah
Apa Yang Harus Diperjuangkan?
Ketika semua usaha hanyalah sebagai pendamping pengabdian
Ketika daya sudah tak lagi bisa terhargai
Ketika kamuflase kebaikan untuk topeng pencitraan
DIAM
aku hanya butuh diam
diam dalam angan
tentang sebuah harapan
bagaimana bisa aku mengajarkan
sedang egoku masih dalam badan
dan semua aku pendam dalam bingkai perjalanan
LELAH
sebuah kata yang tepat
untuk menggambarkan keadaanku sekarang
namun ternyata aku tidak bisa merasakan
apa yang terjadi padaku sekarang
Apa yang harus diperjuangkan
ketika tembok-tembok itu dilempar ke tubuhku
sedang aku yang harus menyusun kembali menjadi bangunan
Senin, 26 September 2016
Garwa "Sigaring Nyawa"
10 Desember 2014, tepat jam 19.00 WIB di depan Bapak dan penghulu, disaksikan oleh keluarga, tamu, malaikat, dan seluruh penghuni alam, janji untuk menanggungku sepenuhnya kau ucapkan. Bagaimana tidak bergetar hebat seluruh tubuh ini. setelah ijab terucap, menunggu saksi mengucap "sah", bayangan semua masa kecil, ketika digendong Ibu, ketika dipakaikan baju oleh Ibu, ketika makan disuapi oleh Ibu, ketika diajari mencuci baju, memasak, membersihkan rumah, hingga akhirnya bisa menghadiahkan sebuah ijazah kepada kedua orang tuaku seketika bermain dipikiranku. perasaan haru, bahagia, sedih, bercampur menjadi satu. "Sah". kata yang sangat luar biasa terucap dari bibir saksi nikah. Tidak terasa butiran air mata menetes, bergulir dipipi, jatuh ditangan hingga akhirnya diusap Ibu, di kamar itu. Aku, wanita rapuh yang masih ingin dibimbing Ibu, hidup serumah dengan Ibu, menggantungkan hidup pada Ibu, semua harus dengan Ibu. Ketika kata "sah" menggema di ruang tengah itu, ingin rasanya memeluk Ibu lebih erat, sujud dikakinya, mencium kakinya. Iya. Seorang lelaki dengan berani memintaku dari orang tuaku. Berani. Berani menanggungku, batinku kala itu, pertama kali "nembung" ke orang tuaku. Berbagai pertimbangan telah kupikirkan, hingga aku menjawab "ya" untuk diajak bersama meniti surgaNya. Dia, lelaki yang terpaut usia 2tahun lebih tua dariku. Dia, lelaki yang kala itu seorang pegawai koperasi. Dia, lelaki dengan segala hormat dan penuh kasih terhadap orang tuanya. Dia, yang dimanapun selalu ramah. Dia, yang sering bertemu teman dimanapun. Dia....Dia...Dia... yang tidak bisa lagi kudefinisikan segala sikap dan karakternya. Bimbinglah aku ketika aku tidak bisa, tegur aku jika aku salah, dan gandeng tanganku ketika aku lupa. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kerahmatanNya untuk keluarga kecil ini, Allah selalu menjaga rejeki kita, dan Allah menghimpun kita kelak di surgaNya. Aamiin.
Jiwaku adalah jiwamu, ragaku adalah ragamu....Untuk Ayah anak-anakku.
Kamis, 22 September 2016
Sedhih
Sedhih...Nalika ngerti yen blog sijine wis ora bisa kabuka. Pancen salahku yen ora ngrumat bakal ora kerumat. Muga blog ini minangka gantine blog sijine. Bisa ngupaya nulis supaya bisa migunani marang sasama.
Nuwun
http://endahlagisinau.blogspot.co.id/
Nuwun
http://endahlagisinau.blogspot.co.id/
Langganan:
Postingan (Atom)
