Sabtu, 11 Januari 2020

''Ada lah..."



Adalah kata ada lah, yang membuat rasa gundah.
Adalah kata ada lah, yang membuat rasa resah.
Adalah kata ada lah, yang membuat jiwa menyerah.

Dibalik kata itu menyimpan sesuatu.
Dibalik kata itu ada yang orang lain tak perlu tahu.
Dibalik kata itu faktanya ada hal yang tersembunyikan semu.


Lantas kenapa terucap jika tak ingin tersingkap?
Lantas kenapa terujar jika tak perlu tersiar?
Lantas kenapa terlontar jika tak seharusnya terpapar?


Belajar mengeja, yang tak menyisa luka.
Karena sekali saja membekas, menyembuhkan tak sebatas minta maaf akan tuntas.
Sangat perlu merangkai kembali, kepercayaan yang terlukai.


Rembang, 11012020
Manusia pecundang, yang baginya 'ada lah' sebuah pedang.

Jumat, 10 Januari 2020

i



Buku ini tergeletak di bangku dimana ketika dia pergi. Kembali memang, tapi tak menyentuhnya lagi.
'Dek, bacalah buku ini.' kalimat terakhir yang dilontarkannya ketika ia tahu, istrinya sangat riweh dengan setrikaannya.

Sepeninggalnya, si istri baru sempat membaca. Butuh waktu tujuh hari, untuk berani membuka, membaca setiap detail kata yang tersaji.

Tak akan berbicara tentang isi buku yang belum tentu benar tafsiranku. Hanya saja, ia selalu berpesan, Islam kita harus berdasar. Sebagaimana rumah tanpa lantai, terpanting gontai.

'Ngajimu jangan di YouTube' ingatnya, 'bisa jadi kita salah menafsirkan, akhirnya tersesatkan' tandasnya.

Siappp. Tentang Semar yang mengingat hidup, tentang Mbah Tejo kesan peng-analogi-an, dan masih banyak tugas membaca yang harus terselesaikan.

Kapan?

Kamis, 09 Januari 2020

'Dan'

Dan...


Jika kita menepi, bukan berarti
Jalan bergelombang itu tak bisa kita lewati.
Kita butuh berhenti, dan satu mendahului
Sekedar meraba yang terlewati nantinya
Hingga kamuflase kebahagiaan yang kita cipta
Fakta adanya.
Kita bahagia.

Derai gerimis, rintik tipis
Telah mampu kita tepis
Terlalu jauh kita berjalan
Sampai pada satu simpang kesesatan.
Tersesat.

Dan...
Suatu nanti
Jalan tlah lebih dulu kau lewati
Aku menunggu di tepi
Terpunggungi yang hilang dalam saput pagi

Pergi, langkahmu terlampau jauh bagiku mengikuti
Terlalu banyak kepingan kenangan yang kita rangkaikan
Kau mengabaikan, sedang aku (mencoba) mengelupas dari ingatan 

Dan...
Terimakasih dengan sangat asih
Telah (dan tetap) mendampingi 
Sampai tegak berdiri (kembali)

Rantai waktu mengiring pergimu
Menghitung detik tak bisa berkutik
Merangkai doa tanpa sua, nantinya....



Kudus, 080120
Jiwa yang ragu tergerus rindu-


Rabu, 08 Januari 2020

Rengkuhan Sumantri




Masih belajar kebaikan yang benar-benar baik, sampai akhirnya mengerti itu baik.


Sukrasana kecewa, niat menolong kakaknya teringkari keegoisan semata. Sumantri sedih, niat untuk mengelabuhi terbalas kematian adik yang dikasihi.

Adalah tentang dimensi berbeda dari lakon dhalang yang dipersepsikan sebatas pandangan manusia biasa.
Semua tahu, Sumantri adalah tokoh yang ingin nyuwita (ngenger; mengabdi). Sebagai abdi, syarat yang diberikan tentu tak bisa dipungkiri. Mulai dari berperang melawan Manggada sampai memindahkan Taman Sriwedari, yang mokal baginya. Usai berperang melawan negara Manggada, dan berhasil memboyong putri dhomas serta Dewi Citrawati yang sangat diinginkan Bendaranya, ketamakannya muncul dengan menantang Arjuna Sasrabahu, Rajanya. Kalah tak bisa dielak. Dengan memohon, Bambang Sumantri, kesempatan kedua hadir sebagai penolong diri. Disyaratkanlah taman Sriwedari, sebagai ganti atas apa yang  telah terjadi. Tak hilang  akal, Bambang Sukrasana yang merupakan adik satu-satunya, menjadi jalan mulus menyalurkan keinginannya. Bambang Sukrasana, yang kekuatannya melebihi dirinya, dengan rela menolong terkasihnya. Dipindahkan dengan mudah Taman yang menjadi syarat akan diterimanya pengabdian Sang Kakak. Bambang Sukrasana tak pamrih, hanya ingin hadirnya tetap ada disamping Kakak yang sangat dicintanya. Dengan berat, Bambang Sumantri meminta syarat. Kepada Sukrasana, diajaklah adiknya asal tak mengganggu suwitanya. Yang terjadi, diluar kendali....

Sukrasana hadir mencari kakaknya, ditaman yang kala itu para dhomas mandi dengan asyiknya. Bak kedamaian yang terusik pelik, seketika taman riuh dengan Sukrasasa yang merasa merasa hadirnya sangat diharapkan kakaknya.
Arjuna Sasrabahu murka, diutuslah Sumantri mencari sebab akan ricuhnya taman kedamaiannya. Terbelalak Sumantri ketika mengetahui, Sukrasanalah yang berulah.
Marah tak terarah. Disiapkan panah sebagai penakut Sukrasana yang membuat ribut. Atas izin sang dewa, tanpa sengaja panah melesat, dileher Sukrasana panah itu mendarat. Sukrasana mati dengan janji. Kepergiannya disurga hanya ingin bersama kakaknya. Dipangkuan Sumantri, Sukrasana mati.


Ya, Sukrasana berucap janji. Kelak ia akan kembali, menjemput kakak yang telah merenggut nyawa adiknya sendiri. Tak bisa mengelak, Sumantri kalah telak. Ketika diutus menjadi Patih perang, melawang Raja Alengka yang murka akibat banjir menerjang, Sumantri mati akibat janji.
Sukrasana hadir dalam tubuh Rahwana, yang kala itu beradu dengan Sumantri, kakaknya.  Sumantri tak sampai hati, membunuh Rahwana dan yang dilihatnya adalah Sukrasana, adik yang dicintanya.
Ditangan Rahwana, Sumantri termakan janji. Terpenuhi ucap Sukrasana, menjemput kakaknya, ketika ajal sudah waktunya. Bersama Sukrasana, Sumantri moksa ke swargaloka.



Ah, Sumantri andai janji tak mudah terucap dilisanmu, tak akan kau rengkuh jasad adikmu. Bersama janji yang tak tertepati, Sukrasana menjemputmu, diajalmu.

Kekecewaan akan ada untuk janji yang tak tertepati kiranya.
Ingatase abdi, lakoni sabisane apa kang dadi titahe Gusti. Aja mburu muluk, yen pungkasane mung gawe liyan ngluruk. 

Kisahmu akan dikenang, Sumantri. Sebagai satria yang tetap memegang teguh keutamaan atas dasar keinginan. Kebaikanmu di pengabdianmu, biar menjadi tauladan sendiri dari sudut pandang kami. Sumantri....


Selasa, 07 Januari 2020

C I N T A



Gelombang Cinta

Tanaman dari Kingdom : Plantae berspesies Anthurium Plowmanii ini siapa sih yang tidak mengenal. Tanaman yang sempat booming pada zamannya sekitar 12tahun yang lalu, dimana atmosfer manusia sangat merasa kaya jika punya tanaman ini di halamannya. Tanaman yang dulunya sempat dijual dengan harga ratusan ribu bahkan jutaan di tiap helainya, kini hanya tinggal nama dengan kenangan 'keartisannya'.


Melihat tanaman gelombang cinta jadi ingat suatu rasa yang nikmatnya luar biasa bagi yang merasa, dan terbuai didalamnya apabila sedang dilanda. C I N T A. Satu kata yang mengubah segalanya. Ah, mungkin atmosfernya juga sama dengan tanaman itu, nikmat diawal dan diakhir kadang tinggalkan pilu. 



Cinta adalah anugerah, bagi siapa yang merasakannya begitu indah jika dilandasi dengan syukur yang Istiqomah. Dimana jika termaknai positif akan menerima kebaikan dalam perlakuan. 



Jadi, selamat menikmati C I N T A; semoga tak semenyengsara gelombangnya. 

Senin, 06 Januari 2020

Emp(a)ty



Hari ke-6.

Tergelitik hati menikmati ini.

12.05 WIB.
Undangan tersebar melalui pesan elektronik, dua hari yang lalu.
Kali ini berbeda. Menunggu 20 menit lamanya tanpa ada gemingan langkah sesalan keterlambatan. Ah, Senin ini memang beda. Jam pelajaran tak seperti biasanya. Hujan tak kunjung reda, upacara-pun tiada. Istirahat yang seharusnya terjeda lama, kali ini harus menerabas karena terpisah hanya bikin resah.

Mencoba memahami.
Kesempatan ini hanya ingin mengajari. Rasa empati tak hanya sekedar meng-iya-kan diri.
Berbagi dalam segala kondisi, dengan hati riang, beraktualisasi.

Semenit, di pukul 12.06WIB, datang satu badan dengan harapan tertinggal dan dengan langkah percepatan. Ternyata harapan tak sesuai realita. Begitu adanya. Yang diharap berempati, yang didapat empty. Selanjutnya, melalui cara sedikit memaksa, mulai berdatangan 1, 2, 3 dan seterusnya sampai ber-15 berkumpul bersama.
Tersepakati apa yg tersosialisasi. Semoga mampu menjadi jariyah sampai akhir nanti.

Nak, lepas dari apa yang kau berikan, semoga empati-empati yang tersalurkan biar menjadi hiasan kebaikan. Tetap dan terus hiasi hati dengan dengan empati, jangan sampai empty. 


Rembang, 6 Januari 2020
Ibu yang menunggumu, wahai insan yang berilmu

Minggu, 05 Januari 2020

Konah Matun


Dina kaping 4 (hari ke-4)

Gerimis yang sedari pagi menyapa manja, menyurutkan langkahnya mengayunkan sepeda. Konah diam, dalam mendung yang kian kelam. 

Hari ini rencananya, Konah bertandang di pematang. Sawah yang tinggal sekedhok peninggalan ayahnya, hari ini akan digarapnya. Konah bingung. Tak biasa ia terjun di lumpur. Ibunya yang biasa mengerjakan semua, terpaksa harus menurunkan kewajibannya kepada Konah. Tak sanggup. 

Konah melamun. Hari ini ia harus matun. Kata Ibu, hama rumput semakin merenggut. Terdengar alunan lagu dari radio tua warna biru. 

Tak tandur pari, jebul thukule malah suket teki....

Penggalan lagu Didi Kempot itu, seakan mengantar Konah untuk berbenah. 
Sebelum suket teki meninggi ia harus segera pergi. Diambilnya caping lontar yang menggantung tiang. Sepeda diayuhnya menerobos rintik gerimis yang gemericik. 
Betul saja, sesampainya dipinggiran sawah, ia melihat beberapa orang telah tandang. Ada yang ndhaut, tandur, nata winih, dan ndhisel. Semua terlihat sibuk menata sawahnya. Konah terpaku. Bingung antara melaju atau kembali berbalik melapor ibu. 

Diantara sibuknya mereka, mata Konah tertuju pada segerombolan Ibu-Ibu yang membungkung dengan tangan  kiri menggenggam tanaman padi, dan tangan kanan berirama menanam padinya. Sesekali tampak mereka ngolet pertanda lelah mulai melanda. 

Lamunan Konah buyar, kala terik memtari sedikit memudar dari mendung yang liar. 
Ah, hari semakin siang. 
Konah segera menuju sawahnya. Sebelumnya, telah dipesan Ibunya, tugas Konah adalah matuni rumput yang hidup diantara bibit tanaman padi yang baru sekitar seminggu ditandur. Ah, mudah. Pikir Konah. 

Mulai dibungkukkan badannya, sesembari matanya menelisik diantara tumbuhan padi yang baru semi. Tak ada, ia pindah di sebelahnya. Begitu seterusnya. Sampai ia menemukan rerumputan yang menjulang lebih tinggi sebagian. Dicabutnya. Berpindah lagi, mencabut lagi, berpindah lagi. Sempat sekali ia hampir terjatuh merasa punggungnya semakin rapuh. 
Konah berhenti, tatkala hujan menemani tak mau pergi. Semakin menjadi. Sesegera menuju galengan. Ia istirahat. Duduk di cangkruk buatan ayahnya. Konah berteduh. Ia membuka bekal dari plastik tebal. Sembari makan tela godhog, ia mengeja. 

Hidup memang layaknya menanam padi. Kebaikan yang disemai bak benih, ditanam dengan tandur (ditata karo mundur; ditata dengan cara jalan mundur) agar kita melupakan yang telah kita tanam, dan terus menanam lahan yang masih gersang. Jika suatu saat tumbuh rumput (kejelekan) maka, patutnya kita cabut. Jika waktunya tiba, maka panen-pun akan kita terima. Hanya tinggal menunggu waktu. 

Tak terasa hujan mulai menghilang. Konah bergegas pulang. Konah, tugasmu belum selesai. Rumput itu akan terus tumbuh, Nah....


------------------------------------------------------------------------
Catatan:
Istilah pekerjaan petani: (Sumber: Kamus Bausastra)
1. dhaut
: I ki 1 ompong; 2 pupak (ganti untu); 3 puput pusêr; □-an ki: slamêtan (jagongan) puputan. II kw: budhal, bedhol (tmr. prajurit) di-□: kw. dibêdhol, dijabut; 2 kn. dibêdholi (tmr. winih pari arêp diêlih ditandur ing sawah).
(Mencabut tanaman padi yang berusia sekitar 3minggu untuk dipindah ditanam di sawah)
2. tandur
: n. tanêm k. 1 pari sing ênom (thikilan); 2 nyèblêkake winih pari ana ing sawah; di-□. 1 dicèblêkake (dipêndhêm) supaya thukul tmr. winih (wiji thikilan); 2 diurit, didhêdhêr; 3 pc. ks. dipêndhêm, dikubur; di-□-i. didokoki tanduran; (tê) □-an. apa-apa sing ditandur, têtuwuhan.
(Menanam tanaman padi di sawah)
3. winih
: kn. 1 wiji pari; 2 bibit; 3 êngg. kewan sing dipurih nurunake; 4 dhadhakan jalaraning pêpadon lsp.
(Bibit tanaman padi yang berusia sekitar 3 minggu)
4. matun
: kn. mbubuti sukêt lsp. ing têgal ut. sawah; kc. watun.
(Mencabut rumput; yang dianggap tanaman hama di sawah)