Kamis, 23 Januari 2020

mengunjungi diri



H+7, hari ke-23.

Lama tak mengunjungi diri, (mungkin) terkunci. Apa kabar kamu, apa kabar coretanmu, apa kabar rentetan katamu? Terlalu sibuk, sampai lupa memeluk. Tubuhmu butuh bercengkrama, dengan suatu yang biasa, biasanya.Sekedar menoreh, semoga kelak jadi rangkaian skenario yang akan dirimu ceritakan -ke mereka- anak cucumu lewat runtut takdirmu.

Foto diambil pukul 05.50-an. Matahari enggan muncul, kala malam itu dingin memukul. Deras air masih terkira, bagimu yang masih asyik bersibuk ria.
Mengajak salah satu dari mereka, meninggi lewat jalan sepi. Terjal. Rembang indah. Lengkok jalur bercerita tentang pegunungan yang sempat vulgar dengan cerita, yang kini tinggal kabar kabur.

Disisi jalur,  hijau padi tumbuh subur. Sangat subur. Diri berada di titik, dimana kendeng kala itu sangat diperjuangkan, demi sebuah misi, melindungi bumi.
Ah, tak menyangka akan disini, kaki menginjak dengan diri yang dari kemarin ringkih tergeletak.
Menikmati sudut keasrian ditengah hiruk pabik yang tetap beroperasi sesuai kesepakatan.Di lereng ini, sangat nyaman, sangat. Diri betah, dan semoga rentetan doa terkabul, untuk segera berbenah.Rembang, di sudut kotamu yang ujung, tak sekedar motivasi, tak sekedar ekspektasi, tak sekedar harapan diri. Banyak semoga, semoga, dan semoga untuk menetap di ujung kotamu. Karena disini, diri terkunjungi.

Rabu, 15 Januari 2020

Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?



Sangat kerdil, ketika tubuh disentil. Dengan sakit, raga tak bisa berkelit. Bagaimana bisa untuk biasa jika yang semula bergerak bebas kini harus yg terkulai lemas.

Tuhan tahu kapan waktu istirahatmu. Dipaksakan semaumu, Tuhan-pun akan menghentikanmu. Caranya, pasti tak akan kau sukai. Hanya Tuhan ingin melihatmu lebih mensyukuri. 

Sakit.
Waktumu memanjakan diri.
Waktumu berhenti.
Waktumu berpikir kembali.

Sampai mana kau telah bergerak, sampai mana kau bertindak, hingga Tuhan harus menegurmu, dengan sakitmu.


Terimakasih, Tuhan.
Diingatkan kembali untuk terus mensyukuri.
Nikmat sehat yang tak bisa dibeli, dengan apapun tak akan terganti. 

Fabiayyi alaai rabbikuma tukadzdzibaan....
Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan....
Merasakan pahit saat makan....
Keceriaan yang terasa ditahan....
Gerak-pun tak bisa dibebaskan....

Terimakasih, Tuhan.
Atas sakit yang Kau anugerahkan. 




Rembang, 13-16 Januari 2020
Manusia ringkih dalam sakitpun tetap berdalih. 

Minggu, 12 Januari 2020

R


Dihadapanmu memang jauh lebih sempurna. Kehidupan yang lengkap, tetapi belum tentu menetap. Dan dirimu jauh lebih sempurna. Kehidupan yang kau jalani dengan syukur pada Illahi. Perlu memandang yang di depan. Karena hidup memang sawang-sinawang. Dan jangan terlalu dipikir dihati. Tuhan tahu kapan waktunya kau menikmati. Jalanmu memang masih sendiri, dan Tuhan hanya ingin kamu senantiasa mensyukuri.


Jika mereka kamu rasa lebih bahagia, kita tak pernah tahu seberapa jalan terjal yang dilaluinya.

Bersyukur, nggih. 🤗


Pati, 12012020
Yang tak lelah menemani.

Sabtu, 11 Januari 2020

''Ada lah..."



Adalah kata ada lah, yang membuat rasa gundah.
Adalah kata ada lah, yang membuat rasa resah.
Adalah kata ada lah, yang membuat jiwa menyerah.

Dibalik kata itu menyimpan sesuatu.
Dibalik kata itu ada yang orang lain tak perlu tahu.
Dibalik kata itu faktanya ada hal yang tersembunyikan semu.


Lantas kenapa terucap jika tak ingin tersingkap?
Lantas kenapa terujar jika tak perlu tersiar?
Lantas kenapa terlontar jika tak seharusnya terpapar?


Belajar mengeja, yang tak menyisa luka.
Karena sekali saja membekas, menyembuhkan tak sebatas minta maaf akan tuntas.
Sangat perlu merangkai kembali, kepercayaan yang terlukai.


Rembang, 11012020
Manusia pecundang, yang baginya 'ada lah' sebuah pedang.

Jumat, 10 Januari 2020

i



Buku ini tergeletak di bangku dimana ketika dia pergi. Kembali memang, tapi tak menyentuhnya lagi.
'Dek, bacalah buku ini.' kalimat terakhir yang dilontarkannya ketika ia tahu, istrinya sangat riweh dengan setrikaannya.

Sepeninggalnya, si istri baru sempat membaca. Butuh waktu tujuh hari, untuk berani membuka, membaca setiap detail kata yang tersaji.

Tak akan berbicara tentang isi buku yang belum tentu benar tafsiranku. Hanya saja, ia selalu berpesan, Islam kita harus berdasar. Sebagaimana rumah tanpa lantai, terpanting gontai.

'Ngajimu jangan di YouTube' ingatnya, 'bisa jadi kita salah menafsirkan, akhirnya tersesatkan' tandasnya.

Siappp. Tentang Semar yang mengingat hidup, tentang Mbah Tejo kesan peng-analogi-an, dan masih banyak tugas membaca yang harus terselesaikan.

Kapan?

Kamis, 09 Januari 2020

'Dan'

Dan...


Jika kita menepi, bukan berarti
Jalan bergelombang itu tak bisa kita lewati.
Kita butuh berhenti, dan satu mendahului
Sekedar meraba yang terlewati nantinya
Hingga kamuflase kebahagiaan yang kita cipta
Fakta adanya.
Kita bahagia.

Derai gerimis, rintik tipis
Telah mampu kita tepis
Terlalu jauh kita berjalan
Sampai pada satu simpang kesesatan.
Tersesat.

Dan...
Suatu nanti
Jalan tlah lebih dulu kau lewati
Aku menunggu di tepi
Terpunggungi yang hilang dalam saput pagi

Pergi, langkahmu terlampau jauh bagiku mengikuti
Terlalu banyak kepingan kenangan yang kita rangkaikan
Kau mengabaikan, sedang aku (mencoba) mengelupas dari ingatan 

Dan...
Terimakasih dengan sangat asih
Telah (dan tetap) mendampingi 
Sampai tegak berdiri (kembali)

Rantai waktu mengiring pergimu
Menghitung detik tak bisa berkutik
Merangkai doa tanpa sua, nantinya....



Kudus, 080120
Jiwa yang ragu tergerus rindu-


Rabu, 08 Januari 2020

Rengkuhan Sumantri




Masih belajar kebaikan yang benar-benar baik, sampai akhirnya mengerti itu baik.


Sukrasana kecewa, niat menolong kakaknya teringkari keegoisan semata. Sumantri sedih, niat untuk mengelabuhi terbalas kematian adik yang dikasihi.

Adalah tentang dimensi berbeda dari lakon dhalang yang dipersepsikan sebatas pandangan manusia biasa.
Semua tahu, Sumantri adalah tokoh yang ingin nyuwita (ngenger; mengabdi). Sebagai abdi, syarat yang diberikan tentu tak bisa dipungkiri. Mulai dari berperang melawan Manggada sampai memindahkan Taman Sriwedari, yang mokal baginya. Usai berperang melawan negara Manggada, dan berhasil memboyong putri dhomas serta Dewi Citrawati yang sangat diinginkan Bendaranya, ketamakannya muncul dengan menantang Arjuna Sasrabahu, Rajanya. Kalah tak bisa dielak. Dengan memohon, Bambang Sumantri, kesempatan kedua hadir sebagai penolong diri. Disyaratkanlah taman Sriwedari, sebagai ganti atas apa yang  telah terjadi. Tak hilang  akal, Bambang Sukrasana yang merupakan adik satu-satunya, menjadi jalan mulus menyalurkan keinginannya. Bambang Sukrasana, yang kekuatannya melebihi dirinya, dengan rela menolong terkasihnya. Dipindahkan dengan mudah Taman yang menjadi syarat akan diterimanya pengabdian Sang Kakak. Bambang Sukrasana tak pamrih, hanya ingin hadirnya tetap ada disamping Kakak yang sangat dicintanya. Dengan berat, Bambang Sumantri meminta syarat. Kepada Sukrasana, diajaklah adiknya asal tak mengganggu suwitanya. Yang terjadi, diluar kendali....

Sukrasana hadir mencari kakaknya, ditaman yang kala itu para dhomas mandi dengan asyiknya. Bak kedamaian yang terusik pelik, seketika taman riuh dengan Sukrasasa yang merasa merasa hadirnya sangat diharapkan kakaknya.
Arjuna Sasrabahu murka, diutuslah Sumantri mencari sebab akan ricuhnya taman kedamaiannya. Terbelalak Sumantri ketika mengetahui, Sukrasanalah yang berulah.
Marah tak terarah. Disiapkan panah sebagai penakut Sukrasana yang membuat ribut. Atas izin sang dewa, tanpa sengaja panah melesat, dileher Sukrasana panah itu mendarat. Sukrasana mati dengan janji. Kepergiannya disurga hanya ingin bersama kakaknya. Dipangkuan Sumantri, Sukrasana mati.


Ya, Sukrasana berucap janji. Kelak ia akan kembali, menjemput kakak yang telah merenggut nyawa adiknya sendiri. Tak bisa mengelak, Sumantri kalah telak. Ketika diutus menjadi Patih perang, melawang Raja Alengka yang murka akibat banjir menerjang, Sumantri mati akibat janji.
Sukrasana hadir dalam tubuh Rahwana, yang kala itu beradu dengan Sumantri, kakaknya.  Sumantri tak sampai hati, membunuh Rahwana dan yang dilihatnya adalah Sukrasana, adik yang dicintanya.
Ditangan Rahwana, Sumantri termakan janji. Terpenuhi ucap Sukrasana, menjemput kakaknya, ketika ajal sudah waktunya. Bersama Sukrasana, Sumantri moksa ke swargaloka.



Ah, Sumantri andai janji tak mudah terucap dilisanmu, tak akan kau rengkuh jasad adikmu. Bersama janji yang tak tertepati, Sukrasana menjemputmu, diajalmu.

Kekecewaan akan ada untuk janji yang tak tertepati kiranya.
Ingatase abdi, lakoni sabisane apa kang dadi titahe Gusti. Aja mburu muluk, yen pungkasane mung gawe liyan ngluruk. 

Kisahmu akan dikenang, Sumantri. Sebagai satria yang tetap memegang teguh keutamaan atas dasar keinginan. Kebaikanmu di pengabdianmu, biar menjadi tauladan sendiri dari sudut pandang kami. Sumantri....