Selasa, 07 Januari 2020

C I N T A



Gelombang Cinta

Tanaman dari Kingdom : Plantae berspesies Anthurium Plowmanii ini siapa sih yang tidak mengenal. Tanaman yang sempat booming pada zamannya sekitar 12tahun yang lalu, dimana atmosfer manusia sangat merasa kaya jika punya tanaman ini di halamannya. Tanaman yang dulunya sempat dijual dengan harga ratusan ribu bahkan jutaan di tiap helainya, kini hanya tinggal nama dengan kenangan 'keartisannya'.


Melihat tanaman gelombang cinta jadi ingat suatu rasa yang nikmatnya luar biasa bagi yang merasa, dan terbuai didalamnya apabila sedang dilanda. C I N T A. Satu kata yang mengubah segalanya. Ah, mungkin atmosfernya juga sama dengan tanaman itu, nikmat diawal dan diakhir kadang tinggalkan pilu. 



Cinta adalah anugerah, bagi siapa yang merasakannya begitu indah jika dilandasi dengan syukur yang Istiqomah. Dimana jika termaknai positif akan menerima kebaikan dalam perlakuan. 



Jadi, selamat menikmati C I N T A; semoga tak semenyengsara gelombangnya. 

Senin, 06 Januari 2020

Emp(a)ty



Hari ke-6.

Tergelitik hati menikmati ini.

12.05 WIB.
Undangan tersebar melalui pesan elektronik, dua hari yang lalu.
Kali ini berbeda. Menunggu 20 menit lamanya tanpa ada gemingan langkah sesalan keterlambatan. Ah, Senin ini memang beda. Jam pelajaran tak seperti biasanya. Hujan tak kunjung reda, upacara-pun tiada. Istirahat yang seharusnya terjeda lama, kali ini harus menerabas karena terpisah hanya bikin resah.

Mencoba memahami.
Kesempatan ini hanya ingin mengajari. Rasa empati tak hanya sekedar meng-iya-kan diri.
Berbagi dalam segala kondisi, dengan hati riang, beraktualisasi.

Semenit, di pukul 12.06WIB, datang satu badan dengan harapan tertinggal dan dengan langkah percepatan. Ternyata harapan tak sesuai realita. Begitu adanya. Yang diharap berempati, yang didapat empty. Selanjutnya, melalui cara sedikit memaksa, mulai berdatangan 1, 2, 3 dan seterusnya sampai ber-15 berkumpul bersama.
Tersepakati apa yg tersosialisasi. Semoga mampu menjadi jariyah sampai akhir nanti.

Nak, lepas dari apa yang kau berikan, semoga empati-empati yang tersalurkan biar menjadi hiasan kebaikan. Tetap dan terus hiasi hati dengan dengan empati, jangan sampai empty. 


Rembang, 6 Januari 2020
Ibu yang menunggumu, wahai insan yang berilmu

Minggu, 05 Januari 2020

Konah Matun


Dina kaping 4 (hari ke-4)

Gerimis yang sedari pagi menyapa manja, menyurutkan langkahnya mengayunkan sepeda. Konah diam, dalam mendung yang kian kelam. 

Hari ini rencananya, Konah bertandang di pematang. Sawah yang tinggal sekedhok peninggalan ayahnya, hari ini akan digarapnya. Konah bingung. Tak biasa ia terjun di lumpur. Ibunya yang biasa mengerjakan semua, terpaksa harus menurunkan kewajibannya kepada Konah. Tak sanggup. 

Konah melamun. Hari ini ia harus matun. Kata Ibu, hama rumput semakin merenggut. Terdengar alunan lagu dari radio tua warna biru. 

Tak tandur pari, jebul thukule malah suket teki....

Penggalan lagu Didi Kempot itu, seakan mengantar Konah untuk berbenah. 
Sebelum suket teki meninggi ia harus segera pergi. Diambilnya caping lontar yang menggantung tiang. Sepeda diayuhnya menerobos rintik gerimis yang gemericik. 
Betul saja, sesampainya dipinggiran sawah, ia melihat beberapa orang telah tandang. Ada yang ndhaut, tandur, nata winih, dan ndhisel. Semua terlihat sibuk menata sawahnya. Konah terpaku. Bingung antara melaju atau kembali berbalik melapor ibu. 

Diantara sibuknya mereka, mata Konah tertuju pada segerombolan Ibu-Ibu yang membungkung dengan tangan  kiri menggenggam tanaman padi, dan tangan kanan berirama menanam padinya. Sesekali tampak mereka ngolet pertanda lelah mulai melanda. 

Lamunan Konah buyar, kala terik memtari sedikit memudar dari mendung yang liar. 
Ah, hari semakin siang. 
Konah segera menuju sawahnya. Sebelumnya, telah dipesan Ibunya, tugas Konah adalah matuni rumput yang hidup diantara bibit tanaman padi yang baru sekitar seminggu ditandur. Ah, mudah. Pikir Konah. 

Mulai dibungkukkan badannya, sesembari matanya menelisik diantara tumbuhan padi yang baru semi. Tak ada, ia pindah di sebelahnya. Begitu seterusnya. Sampai ia menemukan rerumputan yang menjulang lebih tinggi sebagian. Dicabutnya. Berpindah lagi, mencabut lagi, berpindah lagi. Sempat sekali ia hampir terjatuh merasa punggungnya semakin rapuh. 
Konah berhenti, tatkala hujan menemani tak mau pergi. Semakin menjadi. Sesegera menuju galengan. Ia istirahat. Duduk di cangkruk buatan ayahnya. Konah berteduh. Ia membuka bekal dari plastik tebal. Sembari makan tela godhog, ia mengeja. 

Hidup memang layaknya menanam padi. Kebaikan yang disemai bak benih, ditanam dengan tandur (ditata karo mundur; ditata dengan cara jalan mundur) agar kita melupakan yang telah kita tanam, dan terus menanam lahan yang masih gersang. Jika suatu saat tumbuh rumput (kejelekan) maka, patutnya kita cabut. Jika waktunya tiba, maka panen-pun akan kita terima. Hanya tinggal menunggu waktu. 

Tak terasa hujan mulai menghilang. Konah bergegas pulang. Konah, tugasmu belum selesai. Rumput itu akan terus tumbuh, Nah....


------------------------------------------------------------------------
Catatan:
Istilah pekerjaan petani: (Sumber: Kamus Bausastra)
1. dhaut
: I ki 1 ompong; 2 pupak (ganti untu); 3 puput pusêr; □-an ki: slamêtan (jagongan) puputan. II kw: budhal, bedhol (tmr. prajurit) di-□: kw. dibêdhol, dijabut; 2 kn. dibêdholi (tmr. winih pari arêp diêlih ditandur ing sawah).
(Mencabut tanaman padi yang berusia sekitar 3minggu untuk dipindah ditanam di sawah)
2. tandur
: n. tanêm k. 1 pari sing ênom (thikilan); 2 nyèblêkake winih pari ana ing sawah; di-□. 1 dicèblêkake (dipêndhêm) supaya thukul tmr. winih (wiji thikilan); 2 diurit, didhêdhêr; 3 pc. ks. dipêndhêm, dikubur; di-□-i. didokoki tanduran; (tê) □-an. apa-apa sing ditandur, têtuwuhan.
(Menanam tanaman padi di sawah)
3. winih
: kn. 1 wiji pari; 2 bibit; 3 êngg. kewan sing dipurih nurunake; 4 dhadhakan jalaraning pêpadon lsp.
(Bibit tanaman padi yang berusia sekitar 3 minggu)
4. matun
: kn. mbubuti sukêt lsp. ing têgal ut. sawah; kc. watun.
(Mencabut rumput; yang dianggap tanaman hama di sawah)

Sabtu, 04 Januari 2020

SRUNDENG



Senja di suatu masjid....
Si Ibu dengan lima anaknya. 
'Eh, Ibu duwe jajan.' (Eh, Ibu punya jajan).
'Apa, bu?' tanya salah satu dari mereka. 
'Coba wae.' (Coba saja)

Dibuka makanan yg berkemaskan semacam kertas aluminium. Tampak sisi depan bertuliskan Srundeng Tradisional Rahayu.
Ditumpahkannya sedikit ditelapak tangan, dengan pasti dituangkan ke mulut. 
'Kres, kres, kres....' tampak riuh kunyahan mereka setelah srundeng berpindah tangan lainnya. 

'Enak, ya?' tanya si Ibu. 
'Nggak enak, bu' jawab si bongsor dengan mulut yang nyambi ngunyah. 

Begitu seterusnya, hingga tersisa sepertiga. 

Pagi tadi...

'Buuuu'
Belum sempat terjawab pesan elektronik itu, kembali masuk pesan lainnya. 
'Kemarin beli srundengnya dimana?' selidik si bongsor lainnya paling gendut diantara mereka, yang makan srundeng. 
Dibalaslah pendek oleh si Ibu. 'Oleh-oleh dari Jogja'. 
'Nggih mpun'. (Ya sudah).


Srundeng, makanan sederhana dari seorang Ibu yang menerima oleh-oleh dari anaknya.
Tak semewah di restoran megah, mampu menciptakan kehagatan yang renyah, bahkan mampu membuat tanduk untuk kembali mengunyah.
Srundeng, makanan tradisional yang akan tetap moncer. Tak tersisih meski pelbagai makanan luar semakin menebar bak buih.


-----------------------------------------------------------------------
Srundeng: (kn) gorengan parudan klapa. (Kamus Bausastra)

Kamis, 02 Januari 2020

A(n)DIL


Hari ke-3

Hari ini melihat setumpuk disposisi dalam satu bendel yang berisi. Mulai membuka, yang ternyata isinya sekumpulan disposisi selama setahun utuh. Masih sama, belum tersentuh untuk mengabadikan dalam buku 'agenda surat masuk' yang mulai lusuh.

Buruk sekali, kamu di tahun itu. Bualku, kesal. Menyesal. Bagaimana setumpuk disposisi hanya mampir ditangan, dilaksanakan, kemudian kembali masuk map tanpa terarsipkan.

Sebatas itu mengajari siswamu? Kembali pertanyaan mampir berputar dalam otak yang kian mengalir. Sebentar lagi akan datang disposisi-disposisi yang siap untuk kau tangani.
Ha,ha,ha. Terlale pede sekali, Anda, saudara.😎😎

Bukan.
Disini tidak akan kulanjutkan tentang cerita disposisi-disposisi yang seabrek, sementara tubuh (sempat) hampir ringsek, dan kegiatan berlanjut, pastinya dengan segudang persiapan yang sampai bikin hidung mampet.😵😵😵

Baiklah, kembali dimana slogan sekarang bukanlah ikhlas bakti bina bangsa, tetapi menjadi ikhlas bakti binasakan.

Hmmm,
Pernah suatu fajar mendengarkan pengajian kitab Al-Hikam, seperti ini yang dingendikakake  sama Kyai musoneb. 'Hadirkan Allah dalam setiap apa yang kita lihat, kita kerjakan, disekitar.'  Jika ada yang marah, dialah yang digerakkan Allah untuk menguji kesabaran kita. Jika ada yang memuji, maka dia digerakkan Allah untuk mengingatkan kita menambah rasa syukur. Dan masih banyak kehadiran-kehadiran Allah di motor, di lampu, di mobil, di pohon, bahkan di partikel terkecil sekalipun yang ada dibumi. Bukan, bukan kita mewujudkan Allah sebagai motor, mobil, pohon, dan yang lainnya. Membuka sudut bagaimana Allah bisa menggerakkan tangan manusia untuk merakit yang rumit atau menggerakkan yang secara nalar tak bisa digerakkan.
Hadirkan Allah. Allah dulu, Allah lagi, dan Allah terus. Begitu seterusnya. Sebagaimana kepercayaan itu hadir dalam tubuh dan langkah untuk tetap melaksanakan disposisi-disposisi ini. Allah begitu andil dalam menggerakkan apa yg terjadi dalam hidup kita. Sangat, sangat, sangat andil. Maka adilkan dirimu dalam pengandilan itu.

I believe Allah will bless me

Rembang, 03022020
Staf kesiswaan yang menanti datangnya disposisi

------------------------------------------------------------------------------------

Catatan:
1. disposisi/dis·po·si·si/ n 1 Adm pendapat seorang pejabat mengenai urusan yang termuat dalam suatu surat dinas, yang langsung dituliskan pada surat yang bersangkutan atau pada lembar khusus;  (KBBI daring).
2. Dalam instansi penulis, disposisi dibedakan dalam 3 warna:
a. Warna biru : ditujukan untuk siswa
b. Warna kuning : ditujukan untuk guru
c. Warna merah muda : ditujukan untuk siswa dan guru.

Ber-AWAL



Pukul 10.40 WIB.
Aku masih terdiam, belum terpikir apa yang akan kuberikan. Tetiba ingat, sebuah coretan dalam buku kenangan.
Baiklah, akan kulakukan apa yang seharusnya kulakukan. Masuk kelas dengan bermodal satu buku pegangan. Sesampainya disana, sangat asyik bagi mereka yang hampir dua minggu tak bersua. Ya, hari ini adalah hari pertama pasca liburan akhir semester genap. Setelah salam, kusampaikan maaf karena terlambat masuk kelas.
"Baiklah, tidak akan ada materi pelajaran hari ini" kataku, singkat.
"Ye...ye...ye..." Sontak sekelas riuh dengan pernyataanku yang baru saja kulontarkan.
"Buku pendamping (LKS) sampun dicek, boten wonten sing kirang, ya?" tanyaku.
"Boten, Bu."
"Tutup semua, mari kita berdo'a."
Mereka saling pandang. Masih ada beberapa riuh di sudut kelas.

"Anakku" sapaku pelan. "Ingatlah, ini awal kalian di semester genap. Artinya waktu yang tersisa disini tak kurang dari tiga bulan."

Ada beberapa yang fokus, dan ada beberapa yang sengaja mengerutkan dahi, menunduk. Pertanda sudah mulai paham arahku kali ini.

"Buka, kertas atau pembaran apapun yang bisa kalian jadikan media menulis."

Riuh kembali ketika beberapa ada yang merobek bagian buku. Meminta, atau bahkan sengaja membagi kembali menjadi beberapa bagian setelah merobek dari buku.

"Tundukkan kepala bersama. Izinkan Ibu menuntun kalian."

Diam.

"Bismillahirrahmanirrahim. Yaa Rabbku, Tuhan Yang Maha Baik. Sungguh hari ini kami bersama menundukkan kepala. Kami bermimpi bukan tentang apa yang kita inginkan. Ini adalah tentang cita, cinta, dan harapan untuk orang yang tersayang."

Kulihat ada yang semakin larut dalam tundukan.
"Rabb-ku" lanjutku, "Kami hanyalah insan yang selalu meminta, izinkan kami menulis apa yang menjadi impian kami demi yang kami kasihi. Jernihkan pikiran kami, mantapkan hati kami, teguhkan langkah kami. Sungguh apa yang kami jalani hanyalah semata membahagiakan orang yang kami sayang. Rabb-ku, ini bukanlah akhir langkah kami. Biarkan kami meminta untuk mereka." Diamku memberi jeda.

"Rabbanaa atinaa min ladunka rahmah. Wahayyi'lanaa min amrinaa rasyadaan."
"Anakku, tuliskan apa yang menjadi harapan kalian, dikertas yang sudah ada di hadapan kalian. Anggaplah itu sebagai coretan cambukan untuk kalian. Silakan menulis."

Kulihat sebagian ada yang masih menundukkan pandangan dengan khusyuk meminta kepada Sang Khalliq.

"Tuliskan, nak. Ini adalah awal kalian menulis mimpi kalian. Jika suatu saat kalian membaca kembali dan saat itu telah kau raih apa yang telah kau tuliskan, itu adalah pencapaian kalian. Dan jika suatu saat kau baca kembali, dan belum berhasil apa yang telah kau tulis hari ini, maka, itu adalah takdir yang harus kau jalani."

Sesekali aku menepuk pundak yang begitu kuat dengan segala harapan. Mengusap kepala yang penuh dengan beban. Tak lupa kuacungi jempol untuk mereka yang dengan begitu semangat menuliskan impian-impian mereka.

Terakhir, dan yang paling akhir.
"Al-Kahfi ayat 10, Al-Insyirah, Shalawat, amalkanlah, nak. Karena ikhtiar dan tawakal adalah satu kesatuan yang harus berjalan beriringan."

-Anakku, ini awal mimpimu. Selamat berjuang mewujudkan.-

Rembang, 02012020
Ibu yang mengajar di kelas XII dan melihat mimpi di matamu.

Selasa, 31 Desember 2019

Kita (tidak) Sedang Berpisah

Kuurai satu demi satu perjalanan yang telah memberiku guncangan, dan dari guncangan itulah Tuhan menguatkanku.

Sembah nuwun, Gusti. Engkau
benar-benar membuktikan berkuasa penuh atas hidupku. Sungguh. Kehilangan yang sangat berharga, mengganti dengan yang lebih berharga. Membelajariku untuk terus positif di tengah diri yang kadang timbul rasa naif. Memberikan kenangan indah, hanya terkadang hati belum bisa terarah.
Jika dengan sengit terbesit, untuk apa hidup? Lantas bagaimana syukur itu akan tetap meletup dalam hati dan mulut?

Gusti,
Seharusnya setahun lalu, aku sudah mulai menghitung tinggal berapa hari raga ini mendampingi. Tetapi aku kalah, dengan  kode kehidupan yang sering Kau tunjukan. Penghujung 2018, kala itu. Kelelahan terlihat nyata, dan petunjuk-Mu tak kuhiraukan adanya.
Tahun mengganti dengan pasti. Dan (kembali) seharusnya kusudah menghitung daun dalam lauhul mahfudz yg bertulis namanya sudah mulai gugur. Malaikat telah mengikuti kita. Dan aku (tetap) dengan keegoisanku. Bertaruh manja tak hirau akan lelahnya.
Januari-berjalan apa adanya tiap hari. Dan dosa yang tak sempat kumintakan maaf sudah kulakukan tanpa insyaf. Kakak, aku telah membelah rumah yang sudah kau bangun dengan indah.
Maaf😣😣

Februari-berjuang bersama, kita lakukan tanpa lelah untuk mereka. Demi mengajari pengalaman yang bermakna. Lagi, aku lalai menghitung berapa lembar lagi daun maut itu terbawa malaikat yg siap mencabut.
Keegoisanku bertambah dikala lelah. Menjadikanmu sasaran disetiap kelelahan-kelelahan yang kuciptakan. Dan tanpa merasa, bahwa nyawa tinggal menghitung harinya, Kakak selalu hadir memberi warna untuk kita.
Ah, Februari memang pengalaman luar biasa. Terimakasih, Kak😉

Maret-malaikat tentu tak lepas dari sekitar dan sudah mulai mengitar. Sambatmu tak asing ditelingaku. Dan anggapku, hanyalah sambatan biasa dan masih bisa bertahan layaknya hari sebelumnya. SALAH. Awal Maret tgl 4, dini hari. Bagaimana tak kuseduhkan kehangatan setibamu datang dari perjalanan. Kak... Tinggal hitungan jam, kita tak akan bersua dan terpisah dengan alam yang berbeda. Dini hari, malaikat tanpa pandang bulu, mencabut nyawamu. Pelan tapi pasti, entah dari kapan merasakan sakaratul maut yang katanya sakitnya tak tertahankan. Tetapi Allah begitu memudahkanmu. Dengan dengkuran kerasmu, membangunkanku. Bodohnya, nyawaku belum genap ketika nyawamu sudah tidak akan menetap. Gusti, masih nyata dalam ingatan, bagaimana indahnya kematianmu yang meninggalkanku tanpa pesan.
Seperti orang tidur yang tak ingin terbangun. Kuguncangkan tubuh yang setiap malam kupeluk tanpa beban. Dan detik itu-aku kehilanganmu. Maret-terimakasih aku kehilangan dia yang aku sayang ☺️

April-Desember.... Tak bisa kurangkai cerita dengan lengkap. Bagaimana tubuh yang lunglai ini harus kembali kubangkitkan dengan pasti.
Mei yang seharusnya kurayakan dengan  bertambahnya usiamu, kini hanyalah tinggal bulan tanpa makna yg dalam. Anniversary ke-5 di Desember yang seharusnya kunikmati dg makna bersamamu, tinggallah suatu yang ingin kulupakan tanpa harus kutinggalkan kenanganmu.


Kakak, terimakasih. 2019 telah mengajariku, membelajariku manusia dengan segala ego yang telah dihantam dengan kehilangan.
Aku sudah tidak ingin menangis atas kepergianmu. Karena mati adalah pasti.
Jika suatu saat ada bulir yang mengalir itu hanyalah simbol kerinduanku atas kehadiranmu. Bukan karena kehilanganmu. Aku mencintaimu - dan ikhlaskan aku untuk merangkai kebahagianku. Yang kulakukan tak lagi karena keinginanku, tetapi demi keluargaku. Jika kita tak bertemu di Jannah-Nya karena ketetapan-Nya, biarkan do'a tetap menjadi jembatan rindu kita.

Terimakasih
Terimakasih
Terimakasih

10 Desember 2014 - 4 Maret 2019
-Adek-